THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Senin, 11 Januari 2010

Hadiah Ulang Tahun Terindah Untuk Ayah

Adit adalah seorang anak kelas 2 SMP. Dia adalah seorang anak yang pemalas.Prestasinya selama di SD hanya menempati urutan terbawah yaitu di urutan 40. Dia juga anak yang manja, terutama pada ayahnya yang bekerja sebagai tentara dengan pangkat prajurit. Dia juga anak yang usil, karena suka mengerjai anak perempuan di kelasnya hingga menangis. Di sekolah, Adit selalu datang paling lambat, tapi pulang paling cepat. Walaupun dia anak yang badung, Adit akan menjadi orang yang sukses kelak. Hanya saja dia belum menyadarinya.

Cerita itu bermula dari sini. Pada hari itu, Adit baru saja pulang dari sekolah. Hari itu dia sukses mengerjai Sasa, seorang murit perempuan di kelasnya hingga pingsan. Sasa pingsan saat menemukan kecoa di dalam tasnya yang sengaja dimasukkan oleh Adit. Saat tiba di rumah dia langsung duduk di kursi di ruang tamu bersama ayah dan ibunya. “Bagaimana sekolahmu tadi nak?” tanya ibunya. “Beres bu!” Adit dengan enteng menjawab. “Apanya yang beres, tadi Ibu mendapat telpon dari sekolah kamu! Katanya kamu mengerjai teman sekelas kamu hingga pingsan! Bagaimana kamu ini? Sekolah itu tempat belajar! Bukan tempat bercanda! Ngerti kamu?” Semprot ibunya. Adit sama sekali tidak protes, dia paling takut akan ibunya kalau sedang marah. Tiba-tiba ayahnya menceletuk “Sudahlah Bu, jangan terlalu kasar sama Adit!”. “Ya sudah deh Pak, tapi bapak jangan terlalu memanjakannya, nanti ia menjadi orang yang gagal!” sahut ibunya yang masih terlihat kesal pada Adit. Adit hanya bisa diam seribu bahasa mendengar ibunya marah kepadanya.

Besoknya, tiba-tiba ibu dan ayahnya menghampirinya yang sedang menonton film kartun kesukaannya. “Adit, Ayah telah membicarakan hal ini matang-matang dengan ibu,ibu juga telah setuju dengan keputusan ini” kata Ayah. Lalu Ayah melanjutkan “Minggu depan ayah akan pergi ke Aceh untuk berperang.”. Adit tersentak kaget. “Ayah akan berperang?” katanya kemudian. Ayahnya hanya mengangguk. “Selama Ayah pergi, kamu jangan bandel, jaga ibumu, jadi anak yang rajin dan pintar, Ayah selalu mengharapkan kamu menjadi juara kelas, dan lakukanlah yang terbaik!”. Adit yang tidak setuju dengan keputusan itu berpaling, dan langsung menuju kamar.

Akhirnya hari keberangkatan itu pun tiba. Ayah berangkat pagi-pagi. Dengan pakaian tentaranya, ayah sangat gagah dan berwibawa. Di depan rumah, Ayah dilepas oleh Ibu dan Adit. Saat ayahnya melangkah pergi, sontak Adit pun teriak “Ayah, berjuanglah!”. Ayah pun tersenyum dan melambaikan tangan. ”Semoga Ayahmu berhasil dan pulang dengan selamat Dit!”. Mereka lalu masuk ke dalam rumah.

Sejak ayahnya pergi berperang, Adit berubah 180o. Tiba-tiba dia menjadi anak yang rajin, taat sholat,tidak iseng dan selalu mendoakan ayahnya. Ibunya menjadi kagum kepadanya. Perubahan itu tidak hanya terjadi di rumah, tapi juga di sekolah. Ia menjadi anak yang pintar. Setiap ada soal di papan tulis, dia langsung maju dan mengerjakannya. Teman-teman sekolahnya merasa heran akan perubahan sikap dari Adit. ”Si Adit kesurupan ya?” canda Wawan saat Adit maju ke depan kelas. Walaupun diejek, Adit tetap tersenyum menanggapinya.

Tidak terasa sudah satu semester berlalu, sekarang di sekolahnya SMP Harapan Bangsa, Adit harap-harap cemas menunggu rapot semester ini. Di sekolahnya, rapot diberitahu dan dibagikan kepada murid bukan melalui orang tua masing-masing. Lalu saat itu pun tiba, Bu Dian, wali kelas dari kelas Adit datang. “Anak-anak hari ini ibu beritahukan peringkat di kelas mulai dari peringkat tiga” kata Bu Dian. “Peringkat ketiga,jatuh pada.....Naufal Arifin!”. Seluruh murid bertepuk tangan. “Peringkat kedua jatuh pada.....Nafisa Ghaisani!”. Kelas kembali ramai. “Dan juara kelas kita adalah...... Adityawarman!”. Seluruh murid tidak menyangka bahwa Aditlah juara kelas tahun ini. Tapi mereka tetap memberi tepuk tangan yang keras.

Di Aceh, sekarang sedang puncak perang. Ayah Adit sedang membopong temannya yang sedang terluka. Dia tetap berjalan, tidak perduli walau ada musuh. Tiba-tiba datang sekitar tiga tentara musuh yang mengacungkan senapan mereka kepadanya. Lalu terdengar suara tembakan yang memekakkan telinga, dan saat itu pula ayah Adit jatuh dan roboh ke tanah. Di saat terakhir dalam kehidupannya, dia tersenyum dan berkata “Adit.”

Sementara di Jakarta, Adit yang masih merayakan keberhasilannya berpikir “Rangkingku di kelas akan kupersembahkan untuk ayah sebagai hadiah ulang tahunnya saat ia kembali”. Hanya satu menit setelah itu, ia mendengar ibunya berteriak dan pingsan. Dan pada saat itu ia baru tahu ayahnya telah menghilang dan tidak akan pernah muncul lagi dari muka bumi.

Ibunya dibawa ke rumah sakit karena masih shock dengan kabar duka itu. Disana Adit berpikir, “Kalau ayahnya sudah tiada untuk apa hasil kerja kerasku selama ini?”. Setelah itu Adit menangis dalam tidur dan bermimpi bertemu dengan ayahnya. Tiba-tiba bayangan ayahnya berbicara, “Adit, ayah bangga padamu. Walaupun ayah sudah tiada, kamu harus terus berusaha agar menjadi orang yang berguna bagi bangsa, inilah pesan ayah yang terakhir! Dan jangan lupa jaga ibumu! Selamat tinggal Adit.” Dengan perkataan itu ayahnya menghilang dan Adit terbangun dari mimpinya. Kini ia sadar bahwa ia harus menjadi orang yang besar dan sukses seperti permintaan terakhir ayahnya. “Kalau ayah hanya prajurit, aku akan menjadi Jenderal!” tegasnya dalam hati.

Sepeninggal ayahnya, Adit selalu menjadi juara kelas dan mendapat beasiswa ke luar negeri. Dan saat ini ia berdiri gagah di depan anak buahnya sebagai Jenderal yang dikagumi dan disegani baik oleh anak buahnya, maupun para musuhnya. Dan ketika dia melihat ke langit, dia dapat melihat ayahnya tersenyum bangga kepadanya saat itu, walaupun itu hanya senyuman dari surga. Dengan itu, dia dapat memenuhi janjinya untuk menjadi orang yang sukses. Itu adalah hal terindah dalam hidupnya. Disaat hari ulang tahun ayahnya.

1 komentar:

Thoriyama mengatakan...

Keren abizzzzz..... Gw pengen nangis, ki :")